Zakat tanpa potangan amil, Zakat Maal, Zakat Mal, Zakat Harta, Zakat Profesi, Panti Asuhan , rumah zakat, Bazis, Yayasan Yatim Piatu

Artikel dan Dakwah

PUASA

Posted at July 18, 2011 | By : | Categories : Artikel dan Dakwah | 0 Comment

MARHABAN YA RAMADHAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “marhaban”? diartikan sebagai “kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu (yang berarti selamat datang).” Ia sama dengan ahlan wa sahlan? yang juga dalam kamus tersebut diartikan “selamat datang.”

Walaupun??? keduanya??? berarti??? “selamat?? datang”?? tetapi penggunaannya berbeda. Para ulama tidak menggunakan? ahlan? wasahlan? untuk? menyambut? datangnya? bulan Ramadhan, melainkan “marhaban ya Ramadhan”.

Ahlan? terambil? dari? kata? ahl? yang?? berarti?? “keluarga”, sedangkan? sahlan? berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti “dataran? rendah”? karena? mudah? dilalui,? tidak seperti? “jalan? mendaki”.? Ahlan? wa? sahlan, adalah ungkapan selamat datang,? yang? dicelahnya? terdapat? kalimat? tersirat yaitu,? “(Anda? berada? di tengah) keluarga dan (melangkaLkar1kaki di) dataran rendah yang mudah.”

Marhaban terambil dari kata? rahb? yang? berarti? “luas”? atau “lapang”,? sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima? dengan? dada? lapang, penuh? kegembiraan? serta dipersiapkan? baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang? diinginkannya. ?Dari? akar?? kata?? yang?? sama?? dengan “marhaban”,? terbentuk? kata? rahbat? yang antara lain berarti “ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan.” Marhaban ya Ramadhan berarti “Selamat? datang? Ramadhan”? mengandung? arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak?? dengan?? menggerutu?? dan?? menganggap??? kehadirannya “mengganggu ketenangan” atau suasana nyaman kita.

Marhaban? ya? Ramadhan,? kita? ucapkan? untuk? bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah Swt.

Ada gunung yang tinggi yang harus ditelusuri guna menemui-Nya, itulah nafsu. Di gunung itu ada? lereng? yang? curam,? belukar yang lebat, bahkan banyak perampok yang mengancam, serta iblis yang merayu,? agar? perjalanan? tidak? melanjutkan.? Bertambah tinggi? gunung? didaki,? bertambah? hebat? ancaman dan rayuan, semakin curam dan ganas pula perjalanan.? Tetapi,? bila? tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan saat itu, akan tampak dengan jelas rambu-rambu? jalan,? tampak tempat tempat indah untuk berteduh, serta telaga-telaga jernih untuk melepaskan dahaga. Dan bila perjalanan dilanjutkan? akan ditemukan? kendaraan? Ar-Rahman? untuk? mengantar sang musafir bertemu dengan kekasihnya, Allah Swt.? Demikian? kurang? lebih perjalanan itu dilukiskan dalam buku Madarij As-Salikin.

 

Tentu? kita? perlu? mempersiapkan? bekal guna menelusuri jalan? itu. Tahukah Anda apakah bekal itu? Benih-benih kebajikan yang harus? kita tabur di lahan jiwa kita. Tekad yang membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu menghidupkan? malam? Ramadhan dengan shalat dan tadarus, serta siangnya dengan ibadah kepada Allah melalui? pengabdian? untuk? agama,? bangsa? dan? negara. Semoga? kita? berhasil,? dan untuk itu mari kita buka lembaran Al-Quran mempelajari bagaimana tuntunannya.

PUASA MENURUT AL-QURAN

Al-Quran? menggunakan? kata? shiyam? sebanyak? delapan?? kali, kesemuanya? dalam arti puasa menurut pengertian hukum syariat. Sekali Al-Quran juga menggunakan kata shaum,? tetapi? maknanya adalah menahan diri untuk tidak bebicara:

Sesungguhnya Aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun (QS Maryam [19]: 26).

Demikian ucapan? Maryam? a.s.? yang? diajarkan? oleh? malaikat Jibril?? ketika? ada? yang? mempertanyakan? tentang? kelahiran anaknya (Isa? a.s.).? Kata? ini? juga? terdapat? masing-masing sekali? dalam? bentuk? perintah? berpuasa? di? bulan Ramadhan, sekali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah?? baik?? untuk?? kamu”,?? dan? sekali? menunjuk? kepada pelaku-pelaku? puasa? pria? dan? wanita,?? yaitu?? ash-shaimin wash-shaimat.

Kata-kata? yang? beraneka bentuk itu, kesemuanya terambil dari akar kata yang sama yakni? sha-wa-ma? yang? dari? segi? bahasa maknanya? berkisar? pada? “menahan”? dan “berhenti atau “tidak bergerak”. Kuda yang berhenti berjalan? dinamai? faras? shaim. Manusia? yang? berupaya menahan diri dari satu aktivitas ?apa pun? aktivitas? itu– dinamai? shaim? (berpuasa).? Pengertian kebahasaan? ini,? dipersempit? maknanya? oleh? hukum? syariat, sehingga shiyam hanya digunakan untuk “menahan diri dar makan, minum,? dan? upaya? mengeluarkan? sperma? dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”.

Kaum sufi, merujuk ke hakikat dan? tujuan? puasa,? menambahkan kegiatan? yang? harus? dibatasi? selama? melakukan? puasa. Ini mencakup pembatasan atas seluruh anggota tubuh bahkan hati dan pikiran dari melakukan segala macam dosa.

Betapa pun, shiyam atau shaum –bagi manusia– pada hakikatnya adalah menahan atau mengendalikan diri. Karena itu pula? puasa dipersamakan? dengan? sikap? sabar,? baik dari segi pengertian bahasa (keduanya berarti menahan diri) maupun esensi kesabaran dan puasa.

Hadis?? qudsi?? yang? menyatakan? antara? lain? bahwa,? “Puasa untuk-Ku, dan Aku yang memberinya ganjaran” dipersamakan? oleh banyak ulama dengan firman-Nya dalam surat Az-Zumar (39): 10.

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. Orang sabar yang dimaksud di sini adalah orang yang berpuasa. Ada? beberapa? macam? puasa? dalam? pengertian?? syariat/hokum sebagaimana disinggung di atas.

  1. Puasa wajib sebutan Ramadhan.
  2. Puasa kaffarat, akibat pelanggaran, atau semacamnya.
  3. Puasa sunnah.

Tulisan ini akan membatasi uraian pada hal-hal? yang? berkisar pada puasa bulan Ramadhan.

PUASA RAMADHAN

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan, ditemukan dalam? surat Al-Baqarah? (2):? 183,? 184,? 185,? dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru? diwajibkan? setelah? Nabi? Saw.? tiba? di Madinah,? karena ulama Al-Quran sepakat bahwa surat A1-Baqarah

turun di Madinah. Para sejarawan? menyatakan? bahwa? kewajiban melaksanakan? puasa? Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Sya’ban tahun kedua Hijrah.

Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Quran? selama sebutan? penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Quran yang?? seringkali?? melakukan?? penahapan?? dalam??? perintah- perintahnya,?? maka?? agaknya? kewajiban? berpuasa? pun? dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman? ma’dudat

(beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga? hari? dalam? sebutan? yang? merupakan? tahap? awal? dari kewajiban? berpuasa.? Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya ayat 185:

Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Pemahaman semacam? ini? menjadikan? ayat-ayat? puasa? Ramadhan terputus-putus? tidak? menjadi? satu? kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa? Ramadhan? sebagai? satu? kesatuan,? penulis lebih cenderung mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Quran mewajibkannya tanpa penahapan. Memang, tidak mustahil bahwa?? Nabi? dan? sahabatnya? telah? melakukan? puasa? sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari? Al-Quran,? apalagi tidak? ditemukan? satu? ayat? pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

Uraian Al-Quran tentang kewajiban? puasa? di? bulan? Ramadhan, dimulai? dengan? satu? pendahuluan? yang? mendorong umat islam untuk melaksanakannya dengan? baik,? tanpa? sedikit? kekesalan pun.

Perhatikan? surat? Al-Baqarah? (2):? 185.? ia? dimulai? dengan panggilan mesra, “Wahai orang-orang yang? beriman,? diwajibkan kepada? kamu? berpuasa.”? Di? sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa? itu,

tetapi?? terlebih?? dahulu?? dikemukakan? bahwa,? “sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum? kamu.”? Jika? demikian, maka? wajar? pula? jika? umat? Islam? melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan? yang? berpuasa sendiri yakni “agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa).”

Kemudian Al-Quran dalam surat A1-Baqarah (2): 186? menjelaskan bahwa? kewajiban? itu? bukannya? sepanjang tahun, tetapi hanya “beberapa hari tertentu,” itu pun hanya diwajibkan? bagi? yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga “barangsiapa? sakit? atau? dalam? perjalanan,” maka? dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari? yang? lain. “Sedang? yang? merasa? sangat? berat? berpuasa,? maka (sebagai gantinya) dia? harus? membayar? fidyah,? yaitu? memberi? makan seorang? miskin.” Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa “berpuasa adalah baik.”

Setelah itu disusul? dengan? penjelasan? tentang? keistimewaan bulan? Ramadhan,? dan? dari? sini? datang? perintah-Nya? untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan? bahwa orang? yang? sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan? memberikan? penegasan? mengenai?? peraturan?? berpuasa sebagaimana? disebut? sebelumnya. Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan? “Allah? menghendaki? kemudahdn? untuk kamu bukan kesulitan,” lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa,? tetapi tentang? doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Quran tentang puasa? tentu? mempunyai? rahasia tersendiri.? Agaknya? ia? mengisyaratkan bahwa berdoa di bu1an Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan,? dan? karena

itu?? ayat? tersebut? menegaskan? bahwa? “Allah? dekat? kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa.”

Selanjutnya ayat 187 antara? lain? menyangkut? izin? melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang? harus? dikerjakan,? yakni? dari? terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Banyak?? informasi?? dan? tuntunan? yang? dapat? ditarik? dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan? puasa. Berikut? akan? dikemukan? sekelumit baik yang berkaitan dengan hukum? maupun? hikmahnya,? dengan? menggarisbawahi? kata? atau kalimat dari ayat-ayat puasa di atas.

BEBERAPA ASPEK HUKUM BERKAITAN DENGAN PUASA

a. Faman kana minkum maridha (Siapa di antara kamu yang menderita sakit)

Maridh berarti sakit. Penyakit dalam kaitannya dengan berpuasa secara garis besar dapat dibagi dua:

  1. Penderita tidak dapaat berpuasa; dalam hal ini ia wajib berbuka; dan
  2. Penderita dapat berpuasa, tetapi dengan mendapat kesulitan atau keterlambatan penyembuhan, maka ia dianjurkan tidak berpuasa.

Sebagian ulama menyatakan bahwa penyakit apa pun yang diderita oleh seseorang, membolehkannya untuk berbuka. Ulama besar ibnu Sirin, pernah ditemui makan? di? siang? hari? bukan? Ramadhan, dengan? alasan? jari? telunjuknya? sakit.? Betapa? pun,? harus dicatat, bahwa Al-Quran tidak merinci persolan ini. Teks? ayat mencakup pemahaman ibnu Sirin tersebut. Namun demikian agaknya kita dapat berkata bahwa Allah Swt.? sengaja? memilih? redaksi demikian, guna menyerahkan kepada nurani manusia masing-masing untuk menentukan sendiri apakah ia? berpuasa? atau? tidak.? Di

sisi lain harus diingat bahwa orang yang tidak berpuasa dengan alasan sakit atau dalam perjalanan? tetap? harus? menggantikan hari-hari ketika ia tidak berpuasa dalam kesempatan yang lain.

b. Aw’ala safarin (atau dalam perjalanan)

Ulama-ulama berbeda pendapat tentang? bolehnya? berbuka? puasa bagi? orang? yang sedang musafir. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jarak perjalanan. Secara? umum? dapat? dikatakan? bahwa jarak? perjalanan? tersebut? sekitar? 90 kilometer, tetapi ada

juga yang tidak menetapkan jarak tertentu,? sehingga? seberapa pun? jarak yang ditempuh selama dinamai safar atau perjalanan, maka? hal? itu? merupakan? izin? untuk? memperoleh?? kemudahan (rukhshah).

Perbedaan? lain? berkaitan? dengan? ‘illat? (sebab)? izin ini. Apakah karena? adanya? unsur? safar? (perjalanan)? atau? unsure keletihan akibat perjalanan. Di sini, dipermasalahkan misalnya jarak antara Jakarta-Yogya yang ditempuh dengan pesawat kurang dari? satu? jam,? serta? tidak? meletihkan,? apakah? ini dapat dijadikan alasan untuk berbuka atau? meng-qashar? shalat? atau tidak.? Ini? antara? lain berpulang kepada tinjauan sebab izin ini.

Selanjutnya mereka? juga? memperselisihkan? tujuan? perjalanan yang? membolehkan? berbuka? (demikian juga qashar dan menjamak shalat). Apakah? perjalanan? tersebut? harus? bertujuan? dalam kerangka? ketaatan? kepada? Allah,? misalnya? perjalanan haji, silaturahmi, belajar, atau termasuk juga perjalanan bisnis dan mubah (yang dibolehkan) seperti wisata dan sebagainya? Agaknya alasan yang memasukkan hal-hal? di? atas? sebagai? membolehkan berbuka,? lebih? kuat,? kecuali jika perjalanan tersebut untuk perbuatan? maksiat,? maka? tentu?? yang?? bersangkutan?? tidak memperoleh? izin? untuk? berbuka? dan atau menjamak shalatnya. Bagaimana? mungkin? orang? yang? durhaka?? memperoleh?? rahmat kemudahan dari Allah Swt.?

Juga? diperselisihkan? apakah? yang? lebih? utama bagi seorang musafir, berpuasa atau berbuka? Imam Malik? dan? imam? Syafi’I menilai? bahwa? berpuasa? lebih utama dan lebih baik bagi yang mampu,? tetapi? sebagian? besar? ulama? bermazhab? Maliki? dan Syafi’i? menilai? bahwa? hal? ini? sebaiknya diserahkan kepada masing-masing pribadi, dalam arti? apa? pun? pilihannya,? maka itulah? yang lebih baik dan utama. Pendapat ini dikuatkan oleh sebuah riwayat dari imam Bukhari dan Muslim melalui? Anas? bin Malik? yang menyatakan bahwa, “Kami berada dalam perjalanan di bulan Ramadhan, ada? yang? berpuasa? dan? adapula? yang? tidak berpuasa.? Nabi? tidak? mencela? yang berpuasa, dan tidak juga (mereka) yang tidak berpuasa.”

Memang ada juga ulama yang beranggapan? bahwa? berpuasa? lebih baik? bagi orang yang mampu. Tetapi, sebaliknya, ada pula yang menilai bahwa berbuka lebih baik? dengan? alasan,? ini? adalah izin? Allah.? Tidak? baik? menolak? izin dan seperti penegasan Al-Quran? sendiri? dalam? konteks? puasa,? “Allah? menghendaki kemudahan untuk kamu dan tidak menghendaki kesulitan.” Bahkan? ulama-ulama? Zhahiriyah dan Syi’ah mewajibkan berbuka, antara lain berdasar firman-Nya dalam lanjutan ayat? di? atas, yaitu:

c. Fa ‘iddatun min ayyamin ukhar (sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain).

Ulama? keempat? mazhab? Sunnah?? menyisipkan?? kalimat?? untuk meluruskan? redaksi? di? atas,? sehingga? terjemahannya? lebih kurang berbunyi, “Barangsiapa yang sakit atau dalam perjalanan (dan?? ia? tidak? berpuasa),? maka? (wajib? baginya? berpuasa) sebanyak hari-hari yang ditinggalkan itu pada? hari-hari? yang lain.”

Kalimat? “lalu? ia? tidak? berpuasa”? adalah sisipan yang oleh ulama perlu adanya, karena terdapat sekian banyak? hadis? yang membolehkan? berpuasa? dalam? perjalanan,? sehingga? kewajiban mengganti itu, hanya ditujukan kepada para musafir? dan? orang

yang sakit tetapi tidak berpuasa.

Sisipan? semacam ini ditolak oleh ulama Syi’ah dan Zhahiriyah, sehingga dengan demikian –buat mereka–? menjadi? wajib? bagi orang? yang? sakit? dan dalam perjalanan untuk tidak berpuasa, dan wajib pula menggantinya pada hari-hari yang? lain? seperti bunyi harfiah ayat di atas.

Apakah??? membayar?? puasa?? yang?? ditinggalkan?? itu?? harus berturut-turut? Ada sebuah hadis –tetapi dinilai lemah?yang menyatakan? demikian.? Tetapi? ada riwayat lain melalui Aisyah r.a. yang menginformasikan bahwa memang awalnya ada kata? pada ayat?? puasa?? yang?? berbunyi?? mutatabi’at,? yang? maksudnya memerintahkan? penggantian? (qadha’)?? itu?? harus?? dilakukan bersinambung tanpa sehari pun berbuka sampai selesainya jumlah yang diwajibkan. Tetapi kata mutatabi’at dalam fa ‘iddatun min ayyamin ??ukhar?? mutatabi’at?? yang?? berarti?? berurut? atau bersinambung itu, kemudian dihapus oleh? Allah? Swt.? Sehingga akhirnya? ayat? tersebut? tanpa? kata? ini,? sebagaimana? yang tercantum dalam Mushaf sekarang.

Meng-qadha’ (mengganti) puasa, apakah harus segera, dalam arti harus?? dilakukannya?? pada?? awal?? Syawal,?? ataukah?? dapat ditangguhkan sampai sebelum datangnya Ramadhan berikut?? Hanya segelintir? kecil? ulama? yang? mengharuskan sesegera mungkin, namun umumnya tidak? mengharuskan? ketergesaan? itu,? walaupun diakui? bahwa semakin cepat semakin baik. Nah, bagaimana kalau Ramadhan berikutnya sudah berlalu, kemudian kita tidak? sempat menggantinya,? apakah? ada? kaffarat akibat keterlambatan itu? Imam Malik, Syafi’i, dan Ahmad, berpendapat bahwa? di? samping berpuasa,? ia? harus? membayar? kaffarat? berupa memberi makan seorang miskin; sedangkan imam Abu? Hanifah? tidak? mewajibkan kaffarat? dengan? alasan? tidak? dicakup? oleh redaksi ayat di atas.

 

Optimized by SEO Ultimate